Halo Assalamualaikum teman – teman perkenalkan saya Arisky Wijaya
mahasiswa semester 1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas
Dakwah dan Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi, Pada kesempatan kali ini
saya akan sedikit merangkum buku yang berjudul 60 Menit Terapi Shalat
Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Sebelumnya izinkan saya
mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan saya
kesehatan dan kelancaran saat menulis artikel ini, Shalawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW panutan kita semua umat muslim.

Pertama - tama saya akan mengenalkan siapa itu
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, Beliau adalah Imam Shalat Teraweh di Afrika,
Asia bahkan eropa dan beliau lulusan IAIN atau yang sekarang disebut
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Banyak buku yang sudah beliau
tulis seperti Sukses Belajar Melalui Terapi Shalat (2016), Bersiul di
Tengah Badai (2015), Ilmu Dakwah (2004), Solusi Ibadah di
Hongkong (2003), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (2011), Teknik Khutbah
Jum’at Komunikatif (2014), Public Speaking, Gaya dan Teknik
Pidato Dakwah (2017), Doa-Doa Keluarga Bahagia
(2013).
Atas izin beliau saya diberi kesempatan untuk merangkum salah satu
bukunya. Saya akan mulai dari bagan terapi shalat bahagia, ada istilah yang
dikatakan buku ini adalah T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana’ah) shalat yang
dilakukan dengan penghayatan bisa menguatkan keimanan dan sifat tawakal. Dengan
keimanan dan tawakal, seseorang bisa mengarahkan 60.000 pikiran untuk bersifat
optimis, pantang menyerah bahkan menikmati tantangan yang dihadapi. Dengan keimanan
dan tawakal itu pula, seseorang bisa membuang emosi negatif yaitu beban negatif
yaitu beban masalah yang memberatkan jiwanya. Emosi negatif itu menjadi hilang karena dengan penyerahan
diri yang sepenuh hati kepada Allah, berarti ia yakin bahwasemua masalahnya
telah diambilalih oleh Allah SWT. Dengan kata lain, Allah SWT tidak akan
mengambil alih penyelesaian masalah yang dihadapi seseorang, jika ia tawakal
hanya setengah hati.
Shalat harus dikerjakan dengan tumakninah (thuma’ninah)
yaitu tenang, sabar dan tidak tergesa – gesa rukuk, bangkit dari rukuk, sujud
dan seterusnya harus dikerjakan dengan perlahan – lahan. Tidaklah sah shalat
yang tidak tumakninah. Shalat tumakninah membentuk pribadi yang tumakninah. Sikap
tumakninah menyelamatkan manusia dari penyakit hurry sickness, serba
terburu – buru, serba ingin instan, serba tidak sabar (impatience), yang
semuanya menjadi sumber kegelisahan dan konflik.
Shalat sebagai ekspresi syukur juga membentuk pribadi yang qana’ah
( menerima yang ada). Peshalat khusyuk merasa sangat senang dengan karunia
Allah yang telah diterima, puas dengan apa yang ada, dan tidak mengangan –
angan, apalagi menghitung – hitung apa yang belum di tangannya. Dengan hidup
demikian seseorang telah mengurangi daftar keinginan. Jika peshalat telah
berhasil menanamkan jia T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana’ah), maka ia tidak
hanya berbahagia, tapi juga membahagiakan orang lain. Tutur katanya menjadi
enak didengar, sikapnya santun, merendah dan menghargai semua orang tanpa
melihat latar belakang masing – masing dan lebih suka memberi daripada
menerima. Bandingkan dengan orang yang rakus, pemarah, kikir, dan serbaa gugup.
Wajahnya kusut dan terlihat penuh beban. Sudah pasti ia orang yang tak bahagia.
Ia tak hanya menderita, tapi juga menimbulkan penderitaan orang yang bergaul
dengannya.
Secara garis besar ada enam gerakan utama dalam shalat yaitu
berdiri, rukuk, bangun dari rukuk, sujud duduk di antara dua sujud dan tasyahud.
Masing – masing gerakan ini harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghayatan.
Penghayatan dilakukan dengan cara diam sejenak sebelum atau sesudah membaca doa
untuk merenungi poin – poin penting dalam doa pada setiap gerakan. Setelah berhasil
meresapi poin – poin penghayatan dan renungan secara mendalam, baru lanjutkan
gerakan shalat berikutnya. Berikut ini adalah poin – poin penghayatan dan
renungan pada setiap gerakan shalat :
1.
Berdiri
Pada posisi ini, Anda berturut - turut membaca doa pembuka (
iftitah), surat Al Fatihah dan beberapa ayat Al Quran karena dalam posisi ini
hanya surat Al Fatihah yang wajib
dibaca, maka yang paling utama diingat adalah inti dari surat Al Fatihah, yaitu
:
a.
Syukur
kepada Allah SWT
Kita bersyukur
atas semua anugrah Allah Yang Maha Menguasai dan Mengatur alam semesta, Maha
Memenuhi kebutuhan manusia, Maha Pengasih dan Maha pemurah, Maha Adil dan
teliti dalam pengadilan di akhirat.
b.
Bimbingan
Allah SWT
Jangankan anda,
para nabi pun membutuhkan bimbingan Allah SWT. Kita diberi Allah akal, tapi
tidak akan bisa menemukan kebenaran dengan akal semata tanpa petunjuk Allah. Setelah
mengetahui benar pun, kita membutuhkan bimbingan dan kekuatan untuk bisa
melakukannya. Jika sudah tergerak mulai melakukan, masih diperlukan lagi
bimbingan untuk ikhlas melakukannya.
c.
Ketahanan
Iman
Iman kita selalu naik turun. Kita memohon
ketahanan iman agar menjadi hamba yang dirahmati-Nya dan memiliki kekuatan
melawan hawa nafsu.
Ketiga poin diatas, agar mudah
diingat, prof ali menyingkat dengan SUBHAN (Syukur, Bimbingan dan Ketahanan
Iman)
2.
Rukuk
Dengan rukuk kita jauhkan pengagungan diri sendiri, orang lain dan
apa saja di hati selain Allah. Jika hati telah rukuk, semua anggota badan
menjadi ringan menjalankan perintah Allah SWT. Dari beberapa doa rukuk dan
makna filosofisnya, ada dua hal penting yang harus dihayati dalam posisi rukuk,
yaitu :
a.
Tunduk
kepada kehendak Allah SWT
Kita tunduk
sepenuhnya kepada apapun yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Agung. Serahkan hidup
– mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan dan harapan kepada
Allah.
b.
Menurut
kepada semua perintah Allah SWT
Kita berikrar
untuk menurut kepada Allah SWT. Ikrarsyahadat yang berkali – kali diucapkan
dalam shalat adalah ikrar ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
3.
Bangkit dari Rukuk
Dari beberapa doa i’tidal (bangkit dari rukuk) dan makna
filosofisnya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu :
a.
Hak Pujian
Segala puji
bagi Allah SWT. Dialah satu – satunya yang berhak dipuji. Dia Maha Kuasa,
Penguasa Langit dan bumi, dan Maha Pemberi. Kita harus memuji Allah setiap
saat.
b.
Takdir
Tidak ada yang
terjadi di dunia secara kebetulan. Semuanya terjadi atas Rencana Besar;
kehendak dan ketetapan Allah SWT, jika Allah berkehendak memberi sesuatu, tidak
ada satupun kekuatan bisa menghalanginya. Sebaliknya, jika Allah tidak
berkehendak, tidak ada manusia yang dapat memberikannya.
4.
Sujud
Sujud adalah posisi yang paling agung dalam shalat setelah rukuk,
dalam sujud orang tidak bisa menoleh ke manapun kecuali menghadap Allah. Rukuk
adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujudjuga posisi
terdekat antara manusia dan Allah. Berdasarkan doa dan makna filosofis sujud,
maka ada tiga pokok penting yang harus dihayati ketika sujud, yaitu:
a.
Maaf
Kita memohon
maaf atau ampunan Allah atas semua dosa kita, keluarga dan kedua orang tua.
b.
Sinar
Allah
Kita memohon
sinar Allah dalam hati, mata, telinga, lisan, dan semua anggota badan, agar
bisa menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dengan
mudah.
c.
Jiwa
dan Raga
Kita sadar sepenuhnya bahwa jiwa dan
raga ada dalam genggaman Allah SWT. Dengan kekuasaan-Nya, Allah bisa melakukan
apa saja terhadap diri kita. Oleh sebab itu, kita pasrahkan sepenuhnya jiwa dan
raga, hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan kepada
Allah SWT
Ketiga poin di atas prof Ali singkat
dengan istilah MASJID ( Maaf, Sinar, dan (penyerahan) jiwa dan raga).
5.
Duduk Antara Dua Sujud
Dari segi isinya, doa dalam posisi ini adalah doa paling lengkap,
karena mencakup kebutuhan dunia dan akhirat yaitu ampunan, kasih sayang,
kesejahteraan, dan keimanan. Berdasarkan beberapa doa dalam posisi ini, maka ada
empat permohonan penting kepada Allah, yaitu :
a.
Ampunan
Yaitu ampunan
Allah atas dosa – dosa yang anda lakukan. Sebutkanlah dalam hati dosa – dosa tersebut,
lalu mintalah pengampunan dan kekuatan dari Allah untuk tidak mengulanginya.
b.
Kasih
Yaitu kasih
sayang (rahmat) Allah. Ampunan (maghfirah) Allah selalu berkaitan dengan kasih
(rahmat-Nya). Keduanya menjadi penentu masa depan dunia dan akhirat kita.
c.
Sejahtera
Yaitu terpenuhinya
kebutuhan jasmani dan rohani. Kita memohon kesehatan dan rizki yang banyak
dengan niat mendapatkan kemudahan ibadah, biaya pendidikan anak, infak dll.
d.
Iman
Yaitu keimanan yang kokoh dan
petunjuk sepanjang waktu, iman kita sangat labil, apalagi di tengah godaan
duniawi yang semakin beragam.
Keempat poin
diatas disingkat beliau dengan istilah AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera, Iman)
6.
Tasyahud
Posisi duduk
ini disebut tasyahud karena di dalamnya ada bacaan syahadat, sebuah ikrar
keimanan: “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.” Dari beberapa
doa tasyahud dan makna filosofisnya, ada tiga poin penting yang harus dihayati
dalam posisi ini, yaitu :
a.
Shalawat
Shalawat dan salam kita berikan kepada Nabi SAW, sebagai ungkapan
terima kasih atas jasa Nabi SAW yang mengenalkan Allah kepada kita dan
membimbing cara beribadah kepaada-Nya.
b.
Persaksian
Kita bersaksi atau berikrar “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi
Muhammad utusan Allah.” Kita memohon kepada Allah agar tetap menjalankan
perintah Allah dan Rasul-Nya sepanjang hidup dan mati dengan keimanan yang
sempurna.
c.
Tawakal
Kita serahkan sepenuhnya apapun hasil yang diberikan Allah setelah
ikhtiar yang maksimal.
Ketiga poin
tersebut disingkat beliau dengan istilah SOSIAL (Sholawat, Peersaksian,
Tawakal).
Kita menutup
shalat dengan ucapan salam ke kanan dan kiri, kita merasakan bahagia ikut
berdoa untuk pertolongan Allah dan keselamatan bagi semua orang di sebelah
kanan dan kiri kita. Dengan T2Q yang diperoleh melalui shalat, kita merasakan
kedamaian, karena semua dosa sudah kita akui sejujurnya di hadapan Allah dan
memohon ampunan-Nya, semua persoalan hidup telah kita serahkan penuh dan kita
yakini telah di ambil alih penyelesaiannya oleh Allah SWT. Tujuh belas renungan
untuk setiap rakaat shalat di atas, beliau rangkum dalam kalimat kunci : SUBHAN
TURUN HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL.
Mungkin itu saja rangkuman saya mengenai buku yang berjudul 60
Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. kurang
lebihnya mohon maaf, kalau ada salah datangnya dari saya kalau benar itu
datangnya dari Allah.