Saturday, November 30, 2019

Rangkuman 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Halo Assalamualaikum teman – teman perkenalkan saya Arisky Wijaya mahasiswa semester 1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi, Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit merangkum buku yang berjudul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Sebelumnya izinkan saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan saya kesehatan dan kelancaran saat menulis artikel ini, Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW panutan kita semua umat muslim.

Image result for prof dr moh ali aziz
Pertama - tama saya akan mengenalkan siapa itu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, Beliau adalah Imam Shalat Teraweh di Afrika, Asia bahkan eropa dan beliau lulusan IAIN atau yang sekarang disebut Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Banyak buku yang sudah beliau tulis seperti Sukses Belajar Melalui Terapi Shalat (2016), Bersiul di Tengah Badai (2015), Ilmu Dakwah (2004), Solusi Ibadah di Hongkong (2003), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (2011), Teknik Khutbah Jum’at Komunikatif (2014), Public Speaking, Gaya dan Teknik Pidato Dakwah (2017), Doa-Doa Keluarga Bahagia (2013).
Atas izin beliau saya diberi kesempatan untuk merangkum salah satu bukunya. Saya akan mulai dari bagan terapi shalat bahagia, ada istilah yang dikatakan buku ini adalah T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana’ah) shalat yang dilakukan dengan penghayatan bisa menguatkan keimanan dan sifat tawakal. Dengan keimanan dan tawakal, seseorang bisa mengarahkan 60.000 pikiran untuk bersifat optimis, pantang menyerah bahkan menikmati tantangan yang dihadapi. Dengan keimanan dan tawakal itu pula, seseorang bisa membuang emosi negatif yaitu beban negatif yaitu beban masalah yang memberatkan jiwanya. Emosi negatif  itu menjadi hilang karena dengan penyerahan diri yang sepenuh hati kepada Allah, berarti ia yakin bahwasemua masalahnya telah diambilalih oleh Allah SWT. Dengan kata lain, Allah SWT tidak akan mengambil alih penyelesaian masalah yang dihadapi seseorang, jika ia tawakal hanya setengah hati.
Shalat harus dikerjakan dengan tumakninah (thuma’ninah) yaitu tenang, sabar dan tidak tergesa – gesa rukuk, bangkit dari rukuk, sujud dan seterusnya harus dikerjakan dengan perlahan – lahan. Tidaklah sah shalat yang tidak tumakninah. Shalat tumakninah membentuk pribadi yang tumakninah. Sikap tumakninah menyelamatkan manusia dari penyakit hurry sickness, serba terburu – buru, serba ingin instan, serba tidak sabar (impatience), yang semuanya menjadi sumber kegelisahan dan konflik.
Shalat sebagai ekspresi syukur juga membentuk pribadi yang qana’ah ( menerima yang ada). Peshalat khusyuk merasa sangat senang dengan karunia Allah yang telah diterima, puas dengan apa yang ada, dan tidak mengangan – angan, apalagi menghitung – hitung apa yang belum di tangannya. Dengan hidup demikian seseorang telah mengurangi daftar keinginan. Jika peshalat telah berhasil menanamkan jia T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana’ah), maka ia tidak hanya berbahagia, tapi juga membahagiakan orang lain. Tutur katanya menjadi enak didengar, sikapnya santun, merendah dan menghargai semua orang tanpa melihat latar belakang masing – masing dan lebih suka memberi daripada menerima. Bandingkan dengan orang yang rakus, pemarah, kikir, dan serbaa gugup. Wajahnya kusut dan terlihat penuh beban. Sudah pasti ia orang yang tak bahagia. Ia tak hanya menderita, tapi juga menimbulkan penderitaan orang yang bergaul dengannya.
Secara garis besar ada enam gerakan utama dalam shalat yaitu berdiri, rukuk, bangun dari rukuk, sujud duduk di antara dua sujud dan tasyahud. Masing – masing gerakan ini harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghayatan. Penghayatan dilakukan dengan cara diam sejenak sebelum atau sesudah membaca doa untuk merenungi poin – poin penting dalam doa pada setiap gerakan. Setelah berhasil meresapi poin – poin penghayatan dan renungan secara mendalam, baru lanjutkan gerakan shalat berikutnya. Berikut ini adalah poin – poin penghayatan dan renungan pada setiap gerakan shalat :
1.      Berdiri
Pada posisi ini, Anda berturut - turut membaca doa pembuka ( iftitah), surat Al Fatihah dan beberapa ayat Al Quran karena dalam posisi ini hanya surat  Al Fatihah yang wajib dibaca, maka yang paling utama diingat adalah inti dari surat Al Fatihah, yaitu :
a.       Syukur kepada Allah SWT
Kita bersyukur atas semua anugrah Allah Yang Maha Menguasai dan Mengatur alam semesta, Maha Memenuhi kebutuhan manusia, Maha Pengasih dan Maha pemurah, Maha Adil dan teliti dalam pengadilan di akhirat.
b.      Bimbingan Allah SWT
Jangankan anda, para nabi pun membutuhkan bimbingan Allah SWT. Kita diberi Allah akal, tapi tidak akan bisa menemukan kebenaran dengan akal semata tanpa petunjuk Allah. Setelah mengetahui benar pun, kita membutuhkan bimbingan dan kekuatan untuk bisa melakukannya. Jika sudah tergerak mulai melakukan, masih diperlukan lagi bimbingan untuk ikhlas melakukannya.
c.       Ketahanan Iman
Iman kita selalu naik turun. Kita memohon ketahanan iman agar menjadi hamba yang dirahmati-Nya dan memiliki kekuatan melawan hawa nafsu.
    Ketiga poin diatas, agar mudah diingat, prof ali menyingkat dengan SUBHAN (Syukur, Bimbingan dan Ketahanan Iman)

2.      Rukuk
Dengan rukuk kita jauhkan pengagungan diri sendiri, orang lain dan apa saja di hati selain Allah. Jika hati telah rukuk, semua anggota badan menjadi ringan menjalankan perintah Allah SWT. Dari beberapa doa rukuk dan makna filosofisnya, ada dua hal penting yang harus dihayati dalam posisi rukuk, yaitu :

a.       Tunduk kepada kehendak Allah SWT
Kita tunduk sepenuhnya kepada apapun yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Agung. Serahkan hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan dan harapan kepada Allah.
b.      Menurut kepada semua perintah Allah SWT
Kita berikrar untuk menurut kepada Allah SWT. Ikrarsyahadat yang berkali – kali diucapkan dalam shalat adalah ikrar ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

3.      Bangkit dari Rukuk
Dari beberapa doa i’tidal (bangkit dari rukuk) dan makna filosofisnya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu :
a.       Hak Pujian
Segala puji bagi Allah SWT. Dialah satu – satunya yang berhak dipuji. Dia Maha Kuasa, Penguasa Langit dan bumi, dan Maha Pemberi. Kita harus memuji Allah setiap saat.
b.      Takdir
Tidak ada yang terjadi di dunia secara kebetulan. Semuanya terjadi atas Rencana Besar; kehendak dan ketetapan Allah SWT, jika Allah berkehendak memberi sesuatu, tidak ada satupun kekuatan bisa menghalanginya. Sebaliknya, jika Allah tidak berkehendak, tidak ada manusia yang dapat memberikannya.

4.      Sujud
Sujud adalah posisi yang paling agung dalam shalat setelah rukuk, dalam sujud orang tidak bisa menoleh ke manapun kecuali menghadap Allah. Rukuk adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujudjuga posisi terdekat antara manusia dan Allah. Berdasarkan doa dan makna filosofis sujud, maka ada tiga pokok penting yang harus dihayati ketika sujud, yaitu:
a.       Maaf
Kita memohon maaf atau ampunan Allah atas semua dosa kita, keluarga dan kedua orang tua.
b.      Sinar Allah
Kita memohon sinar Allah dalam hati, mata, telinga, lisan, dan semua anggota badan, agar bisa menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dengan mudah.
c.       Jiwa dan Raga
Kita sadar sepenuhnya bahwa jiwa dan raga ada dalam genggaman Allah SWT. Dengan kekuasaan-Nya, Allah bisa melakukan apa saja terhadap diri kita. Oleh sebab itu, kita pasrahkan sepenuhnya jiwa dan raga, hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan kepada Allah SWT
        Ketiga poin di atas prof Ali singkat dengan istilah MASJID ( Maaf, Sinar, dan (penyerahan) jiwa dan raga).

5.      Duduk Antara Dua Sujud
Dari segi isinya, doa dalam posisi ini adalah doa paling lengkap, karena mencakup kebutuhan dunia dan akhirat yaitu ampunan, kasih sayang, kesejahteraan, dan keimanan. Berdasarkan beberapa doa dalam posisi ini, maka ada empat permohonan penting kepada Allah, yaitu :
a.       Ampunan
Yaitu ampunan Allah atas dosa – dosa yang anda lakukan. Sebutkanlah dalam hati dosa – dosa tersebut, lalu mintalah pengampunan dan kekuatan dari Allah untuk tidak mengulanginya.
b.      Kasih
Yaitu kasih sayang (rahmat) Allah. Ampunan (maghfirah) Allah selalu berkaitan dengan kasih (rahmat-Nya). Keduanya menjadi penentu masa depan dunia dan akhirat kita.
c.       Sejahtera
Yaitu terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani. Kita memohon kesehatan dan rizki yang banyak dengan niat mendapatkan kemudahan ibadah, biaya pendidikan anak, infak dll.
d.      Iman
Yaitu keimanan yang kokoh dan petunjuk sepanjang waktu, iman kita sangat labil, apalagi di tengah godaan duniawi yang semakin beragam.
            Keempat poin diatas disingkat beliau dengan istilah AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera, Iman)
6.      Tasyahud
Posisi duduk ini disebut tasyahud karena di dalamnya ada bacaan syahadat, sebuah ikrar keimanan: “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.” Dari beberapa doa tasyahud dan makna filosofisnya, ada tiga poin penting yang harus dihayati dalam posisi ini, yaitu :
a.       Shalawat
Shalawat dan salam kita berikan kepada Nabi SAW, sebagai ungkapan terima kasih atas jasa Nabi SAW yang mengenalkan Allah kepada kita dan membimbing cara beribadah kepaada-Nya.
b.      Persaksian
Kita bersaksi atau berikrar “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.” Kita memohon kepada Allah agar tetap menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya sepanjang hidup dan mati dengan keimanan yang sempurna.
c.       Tawakal
Kita serahkan sepenuhnya apapun hasil yang diberikan Allah setelah ikhtiar yang maksimal.
    Ketiga poin tersebut disingkat beliau dengan istilah SOSIAL (Sholawat, Peersaksian, Tawakal).
            Kita menutup shalat dengan ucapan salam ke kanan dan kiri, kita merasakan bahagia ikut berdoa untuk pertolongan Allah dan keselamatan bagi semua orang di sebelah kanan dan kiri kita. Dengan T2Q yang diperoleh melalui shalat, kita merasakan kedamaian, karena semua dosa sudah kita akui sejujurnya di hadapan Allah dan memohon ampunan-Nya, semua persoalan hidup telah kita serahkan penuh dan kita yakini telah di ambil alih penyelesaiannya oleh Allah SWT. Tujuh belas renungan untuk setiap rakaat shalat di atas, beliau rangkum dalam kalimat kunci : SUBHAN TURUN HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL.
            Mungkin itu saja rangkuman saya mengenai buku yang berjudul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. kurang lebihnya mohon maaf, kalau ada salah datangnya dari saya kalau benar itu datangnya dari Allah.

Wassalamualaikum.