AYAT – AYAT MEKAH DAN MADINAH
MAKALAH
Dosen
:
Prof.Dr.
Moh Ali Aziz, M.Ag
Ati’
Nursyafa’ah M.Kom.I
Disusun
oleh :
Arisky Wijaya
(B95219088)
JURUSAN
ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji
syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga
saya dapat menyusun makalah yang
berjudul “Ayat-Ayat Mekah dan Madinah” Shalawat
serta salam tak lupa saya curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
memperjuangkan islam dari zaman kegelapan sampai zaman terang benderang. Adapun, saya sadari bahwa mulai dari
perencanaan, penyusunan, dan pengerjaan makalah ini saya telah mendapat bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan hormat saya menyampaikan rasa
terima kasih sedalam-dalamnya kepada Dosen pengampu yang telah memberi
pengarahan terhadap penyusunan makalah ini Bapak Prof.Dr.Moh Ali Aziz,,M,Ag Dan Dosen yang juga telah memberikan
pengarahan Ibu Ati’ Nursyafah’ah M.Kom.l
Dan dalam penyusunan makalah ini saya
sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu saya
mengharapkan kritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I
PEDOMAN
PENENTUAN AYAT MEKAH DAN MADINAH
BAB II
CIRI-CIRI AYAT
MEKAH DAN MADINAH
BAB III
MANFAAT
PENGETAHUAN TENTANG AYAT-AYAT MEKAH DAN MADINAH
PENUTUP
BAB I
PEDOMAN PENENTUAN AYAT MEKAH DAN MADINAH
Allah SWT menurunkan ayat Mekah dan ayat
Madinah bukan tanpa sebab, Allah SWT menurunkan ayat-ayat tersebut seperti ayat
Mekah, yang diturunkan pada saat Nabi Muhammad SAW berada di Mekah seama 12
tahun. Pada saat itu masyarakat Mekah melakukan penolakan terhadap Al-Qur’an
oleh karena itu bahasa yang digunakan ayat Mekah kedengarannya amat keras,
huruf-hurufnya seolah melontarkan api ancaman dan siksaan yang ditujukan kepada
masyarakat Mekah yang menentang kebenaran pada waktu itu. Berbeda dengan ayat
Mekah, ayat Madaniyah bernuasa lemah lembut karena kebanyakan isi ayat tersebut
ditujukan kepada orang-orang mukmin. Berdasarkan
buku Study Ulumul Qur’an karya Drs.
Shalahuddin Hamid, MA menyebutkan bahwa pedoman penentuan ayat Mekah dan ayat
Madinah terdiri atas 4 pendekatan yaitu : Pendekatan Historis (Mulahadzatu zamanin nuzul) yaitu teori
yang berorientasi pada sejarah masa turunnya wahyu. Pendekatan Geografis (Mulahadzatu makanin nuzul), teori ini berorientasi pada tempat turunnya
ayat. Pendekatan Obyek (Mulahadzatul
mukhotobin fin nuzul), teori ini berorientasi kepada objek yang ditunjuk
oleh ayat. Pendekatan Kontekstual (Mulahadzatu man tadammanathu assuratu), teori ini berorientasi
kepada kandungan ayat maupun surat termaksud.[1]
Lalu menurut buku Bahan Ajar Studi
Al-Qur’an yang disusun oleh MKD Sunan Ampel Surabaya ada 4 teori yaitu :
Teori Geografis, Teori Historis, Teori Subjektif, dan Teori Konten Analisis[2].
Lalu, Muhammad Hadi Ma’rifat penulis buku Sejarah
Al-Qur’an terdapat 3 tolak ukur pembagian ayat Mekah dan ayat Madinah,
yaitu : tolak ukur zaman, tolak ukur tempat, tolak ukur isi[3].
Berdasarkan teori-teori diatas bisa disimpulkan bahwa banyak teori tentang
pedoman penentuan ayat Mekah dan ayat Madinah.
BAB II
CIRI-CIRI AYAT MEKAH DAN MADINAH
Studi
Makkiyyah adalah studi sejarah, studi sirah, dan studi tentang kejadian
tertentu yang memerlukan penyaksian langsung tentang kejadian tersebut. Maka
tak ada jalan lain yang dapat membantu di dalam memahami mana saja ayat-ayat
Mekah dan mana saja ayat-ayat Madinah. Dari segi sumbernya,ayat Mekah dan ayat
madinah sama saja dengan sabab nuzul,
artinya ayat Mekah maupun ayat Madinah hanya dapat diketahui melalui riwayat
demi riwayat yang diturunkan secara estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya
sebelum kemudian dibukukan atau ditulis dalam suatu bentuk catatan. Sekalipun
demikian, ada ciri-ciri yang bisa ditangkap untuk membedakan ayat Mekah dan
ayat Madinah. dan isyarat atau ciri-ciri yang biasa disebut dhawabith adalah sebagai berikut :
Menurut buku Ulum Al-Qur’an karya Kamaluddin Marzuki ciri-ciri ayat mekah adalah
:
1.
Setiap
surah yang padanya terdapat kata kalla
sebagian besar ayatnya.
2.
Setiap
surah yang padanya terdapat sujud tilawah,
sebagian ayat-ayatnya.
3.
Semua
surah yang diawali huruf tahajji seperti qaf,
nun,ha mim adalah Makkiyah.
4.
Semua
surah yang memuat kisah Adam dan Iblis kecuali surah Al Baqarah adalah
Makkiyah.
5.
Semua
surah yang memuat kisah nabi dan umat-umat terdahulu adalah Makkiyah.
6.
Semua
surah yang terdalamnya terdapat khithab (seruan) kepada manusia (wahai semua
manusia....)
7.
Semua
surah yang menyeru dengan kalimat ‘Anak Adam’ adalah Makkiyah.
8.
Semua
surah yang isinya memberi penekanan pada masalah akidah adalah Makkiyah.
9.
Ciri-ciri
Makkiyah lainnya adalah ayatnya pendek-pendek.
Menurut buku Ulum Al-Qur’an karya Kamaluddin
Marzuki ciri-ciri ayat Madinah adalah :
1.
Semua
surah yang padanya terdapat kalimat ‘orang-orang yang beriman’ adalah
Madaniyah.
2.
Semua
surah yang padanya terdapat hukum-hukum faraidh,
hudud, qishahsh dan jihad adalah
Madaniyah.
3.
Semua
surah yang menyebut ‘orang-orang munafik’ kecuali Al-Ankabut adalah Madaniyah.
4.
Semua
surah yang memuat bantahan terhadap Ahlu
Al-Kita (Yahudi dan Nasrani) adalah Madaniyah.
5.
Semua
surah yang memuat hukum syara’ seperti
ibadah, mu’amalah dan al-ahwal al-syakhshiyah adalah
Madaniyah.
6.
Ayat-ayat
Madaniyah pada umumnya panjang-panjang[4].
Menurut
buku Sejarah Al-Qur’an karya Muhammad
Hadi Ma’rifat disebutkan bahwa sebagian ulama punya kriteria lain untuk
mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah, yaitu sebagai berikut:
1.
Ayat-ayat
pendek yang ada didalam satu surah dan surah pendek menunjukkan bahwa itu
adalah Makkiyah. Panjangnya ayat yang ada dalam satu surah dan panjangnya surah
membuktikan bahwa itu Madaniyah.
2.
Kerasnya
teguran dalam kebanyakan surah ditujukan kepada penduduk Mekkah, karena mereka
membangkang dan bersikeras menentang kebenaran. Jika tipe surah itu berbuasa
lemah lembut, mennjukkan ke-Madaniyah-an surah, karena kebanyakan pembahasan
ditujukan kepada orang-orang mukmin.
3.
Tolak
ukur surah-surah Makkiyah adalah membahas tentang dasar-dasar makrifat, dasar
keimanan dan dakwah islam. Surah-surah Madaniyah kebanyakan membahas tentang
rincian-rincian hukum dan penjelasan syariat islam.
4.
Surah-surah
Makkiyah memiliki ciri, antara lain adalah ajakan untuk selalu berakhlak,
beristiqamah dalam berpendapat, keselamatan aqidah, tidak membangkang, bersikap
tegas terhadap keyakinan batil kaum musyrik serta menganggap pemikiran dangkal
kaum musyrik tak berdasar dan tak berarti. Ciri surah Madaniyah, diantaranya
adalah membahas tentang sikap kaum muslim terhadap ahli kitab dengan mengajak
mereka mengambil jalan tengah dalam akidah dan pemikiran, berperang melawan
orang-orang munafik dan menyebutkan sifat-sifat mereka.
5.
Kebanyakan
pembahasan yang diawali dengan kalimat ‘hai manusia’ adalah salah satu ciri
surah Makkiyah. Pembahasan yang diawali oleh ‘hai orang-orang beriman’ adalah
salah satu ciri surah Madaniyah[5].
Tentu, ciri-ciri
tersebut tidak bersifat universal melainkan hanya bisa diterapkan kepada jenis
tertentu. Ketika ciri-ciri tersebut digabungkan kemudian menjadi valid dan
tidak bertentangan dengan nas yang ada, maka ia bisa dipercaya dan menjadi
sumber isnpirasi ahli fikih atau sejarahwan dan yang lainnya.
Tolak ukur yang membedakan Makkiyah dan
Madaniyah meliputi dua hal, pertama adalah bersifat naratif yang bersumber dari
hadis riwayat yang secara terminologis disebut dengan sima’i. Kedua adalah ijtihad, yaitu identifikasi berdasarkan
kriteria lahiriah dan isi. Kriteria lahiriah seperti susunan kalimat, adanya
sajak (wazan), panjang atau pendeknya
ayat dan surah. Kriteria isi seperti bukti-bukti yang berhubungan dengan
tema-tema akidah, hukum, sikap terhadap orang-orang kafir dan munafik. Menurut
buku Mengenal Tuntas Al-Qur’an karya Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M,Ag ciri-ciri ayat
Mekah yaitu
1.
Dimulai
dengan panggilan Ya Ayyuhannas (wahai
sekalian manusia), Ya Ayyuhal Kafirun
(Wahai orang-orang kafir), Ya Bani Adam (Wahai
keturunan Adam). Terdapat 292 ayat jenis ini.
2.
Terdapat
kata kalla (sekali-kali tidak, atau
jangan begitu!).
3.
Ayat
– ayat sadjah ( disunatkan bersujud
ketika membacanya).
4.
Diawali
huruf terpotong seperti Alif-Lam-Mim,
Nun, Ya-Sin.
5.
Berisi
kisah-kisah, akhlak dan keimanan
6.
Ayatnya
pendek – pendek.
7.
Berisi
sumpah, misalnya “Demi Masa dsb”.
Ciri
– ciri ayat Madinah sebagai berikut :
1.
Ya
Ayyuhalladzina Amanu
(Wahai orang – orang yang beriman). Terdapat 219 ayat jenis ini.
2.
Berisi
hukum, kemasyarakatan, perang, sifat orang – orang munafik, pemeluk agama
Kristen dan Yahudi.
3.
Ayatnya
panjang – panjang.[6]
Lalu, berdasarkan buku yang disusun oleh
tim Mkd Uin Sunan Ampel Surabaya yang berjudul Bahan Ajar Studi Al-Qur’an. Ciri ayat dan surah Makkiyah adalah :
1.
Di
dalamnya berisi penjelasan dengan bukti dan argumentasi tentang konsepsi
ketuhanan (Jadal Al-Qur’an).
2.
Memuat
prinsip-prinsip moral dan pranata sosial yang agung, bersifat universal dan
inklusif.
3.
Memuat
nasehat dan ibarat dalam aneka kisah.
4.
Kebanyakan
ayat dan surahnya pendek, karena menggunakan bentuk ijaz (ringkas, tetapi padat makna).
5.
Didalamnya
terdapat ayat-ayat sadjah.
6.
Di
permulaan terdapat huruf-huruf tahaji
(harf al-muqatta’ah).
7.
Di
dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, selain dalan
Q.S.Al-Baqarah, dan Q.S.Al-Maidah.
8.
Di
dalamnya terdapat cerita tentang kemusyrikan.
9.
Di
dalamnya terdapat keterangan adat istiadat orang kafir, orang musyrik, yang
suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuannya dan
sebagainya.
berdasarkan buku yang disusun oleh tim
MKD UIN SUNAN AMPEL Surabaya yang berjudul Bahan
Ajar Studi Al-Qur’an. Ciri ayat dan surah Madaniyah adalah :
1.
Memuat
hukum pidana (hudud).
2.
Memuat
hukum fara’id.
3.
Berisi
izin jihad fi sabilillah.
4.
Berisi
keterangan tentang karakter orang-orang munafiq.
5.
Berisi
hukum ibadah.
6.
Berisi
hukum muamalah, seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai, utang-piutang, dan
sebagainya.
7.
Berisi
hukum munakahat, baik mengenai nikah
cerai rujuk (NCR).
8.
Berisi
hukum kemasyarakatan, kenegaraan, seperti permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan,
pendidikan, pergaulan dan sebagainya.
9.
Berisi
dakwah kepada pemeluk yahudi dan nasrani.
10. Kebanyakan ayat
dan surahnya panjang[7].
Selanjutnya
menurut Manna Khalil Al Qattan melalui buku Studi
Ilmu-Ilmu Qur’an yang diterjemahkan oleh Drs. Mudzakir AS ciri tema dan
gaya bahasa ayat-ayat Mekah sebagai berikut :
1.
Ajakan
kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah,
kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan
siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan
menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
2.
Peletakan
dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar
terbentuknya suatu masyarakat dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam
penumpahan darah, pemakan harta anakyatim secara zalim, penguburan hidup-hidup
bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
3.
Menyebutkan
kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga
mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka.
4.
Suku
katanya pendek-pendek disertai kata-kata
yang mengesankan sekali pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan
terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan
diperkuat lafal-lafal sumpah.
Ciri
tema dan gaya bahasa ayat-ayat Madinah sebagai berikut :
1.
Menjelaskan
ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan
internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
2.
Seruan
terhadap ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka
untuk masuk islam.
3.
Menyingkap
perilaku orang munafik, mengananlisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan
menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
4.
Suku
kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan
syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya[8].
Seluruh ciri - ciri tersebut tidak
lengkap dan tidak sempurna (exhaustis) sebagaimana yang telah disadari oleh
pakar Ulum Al-Qur’an sejak dulu hingga kini.[9]
BAB III
MANFAAT PENGETAHUAN TENTANG AYAT-AYAT MEKAH DAN MADINAH
Menurut buku Study Ulumul Qur’an
karya Drs.Shalahuddin Hamid,MA manfaat mempelajari ayat Mekah dan Madinah
sebagai berikut :
1.
Sebagai
satu petunjuk dalam menafsirkan Al-Qur’an : karena mengetahui tempat turunnya
Al-Quran membantu pemah aman ayatdan tafsirnya dengan penafsiran yang benar,
meskipun hal ini membantu secara umum saja tidak pada sebab-musababnya.
2.
Mengetahui
strategi dakwah Rasulullah dan mengamalkannya untuk mengembangkan dakwah
dimasyarakat. Bahwa strategi defensif
tidak selalu merupakan kekalahan dalam memperjuangkan kebenaran, sebaliknya
strategi ofensif membuktikan bahwa
manusia mampu menciptakan revolusi moral yang mencengangkan.
3.
Membantu
pengembangan wacana tafsir Al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena dengan
mengetahui pembahasan ini mufassir akan merasa ikut terbawa dengan gaya bahasa
yang dipakai dalam ayat-ayat Makkiyah yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan
Allah sebagai bukti tauhidullaah dan ayat-ayat Madinah yang menjelaskan hukum
secara definitif dan gaya bahasanya yang tegas.
4.
Mengetahi
hukum-hukum yang turun terakhir kali sehingga dapat mengetahui kedudukan nasikh dan mansukh serta dapat mengambil keputusan hukum yang baik dan benar.
5.
Usaha
menggali sedalam mungkin suri tauladan dan akhlakul karimah Rasulullah dari
setiap ayat-ayat Qur’an yang diturunkan kepada beliau[10].
Menurut buku Studi Ilmu-Ilmu Qur’an karya Manna
Khalil Al-Qattan yang diterjemahkan oleh Drs. Mudzakir AS faedah mengetahui
ayat-ayat Mekah dan Madinah diantaranya :
1.
Untuk
dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai
tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya
dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian
umum lafadz, bukan sebab khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat
membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila diantara kedua ayat
terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh
atas yang terdahulu
2.
Meresapi
gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan
Allah, sebab setiap situasi mempuyai bahasa sendiri.
3.
Mengetahui
sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah
sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwannya, baik pada periode
Mekah maupun periode Madinah[11].
Lalu
menurut buku yang berjudul Bahan Ajar
Studi Al-Qur’an yang disusun oleh MKD UIN SUNAN AMPEL Surabaya faedah
mengetahui ayat Mekah dan Madinah secara umum antara lain :
1.
Mengerti
perbedaan uslub-uslub (gaya bahasa
dan stailisasi) Al-Qur’an.
2.
Mengetahui
dialektika Al-Qur’an dengan masyarakatnya, dalam transformasi dan kontruksi
ideologi masyarakat baru dalam sinaran wahyu ilahi.
3.
Mudah
mengenali ayat atau surah yang turun lebih dahulu dan yang belakangan dan mudah
mengenali ayat atau surah hukum atau bacaannya yang telah (mungkin) dinaksh (diganti), dan ayat atau surah
yang menasakh.
4.
Mengetahui
prinsip-prinsip umum (kulliy) dari
isi ayat-ayat atau surah-surah Makkiyah, dan prinsip-prinsip khusus (juz’iy)
dari isi ayat-ayat atau surah-surah Madaniyah
5.
Mengetahui
sejarah pembentukan dan penerapan hukum islam (tarikh tashri) yang amat bijak dalam menetapkan hukumnya
berdasarkan sistem sosial masyarakatnya.
6.
Mengetahui
hikmah ditetapkan dan diterapkannya suatu hukum. Dengan demikian, maka dapat
diketahui tujuan dan cara penetapan serta pelaksanaan hukum islam atas
pertimbangan sosio kulturnya.
7.
Mengetahui
teknik dan tahapan dakwah islamiah, serta sistem dan pola pendidikan Al-Qur’an
yang disesuaikan dengan taraf berfikir, komunikasi dan budaya masyarakatnya.
8.
Dapat
mengetahui situasi dan kondisi masyarakat kota Mekah dan Madinah pada saat
Al-Qur’an diturunkan.
9.
Akan
dapat menambah keimanan seseorang terhadap kebenaran kewahyuan Al-Qur’an, dan
keaslian Al-Qur’an[12].
Dan
menurut buku Be A Living Qur’an karya
Ibrahim Eldeeb manfaat mengetahui ayat-ayat Mekah dan Madinah yaitu :
1.
Mengetahui
mana yang diturunkan lebih dulu dan mana yang kemudian.
2.
Mengetahui
nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus).
3. Meresapi
gaya bahasa Al-Qur’an dengan menghayati peristiwa-peristiwa yang
melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun
nuzul) dan realita kehidupan kaum muslim pada periode sejarah.
4.
Menghayati
perjalanan hidup Rasulullah SAW melalui ayat-ayat Al-Qur’an[13].
Manfaat mengetahui ayat – ayat Mekah dan
ayat – ayat Madinah menurut Prof.Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag melalui buku Mengenal Tuntas Al-Qur’an yang paling
utama adalah pemahaman tentang kronologi turunnya syariat[14]
Ada
sejumlah ulama yang membahas masalah ini secara khusus (dalam satu kitab
tersendiri), di antara Imam Makki dan al-‘Izzu ad-Dairini. Di antara faedah
mengetahui masalah ayat Mekah dan Madinah ini adalah mengetahui yang terakhir
(dari turunnya ayat), sehingga dapat diketahui apakah ia berposisi sebagai nasikh (yang menghapus ayat sebelumnya)
atau sebagai Mukhassis (yang
mengkhususkan terhadap ayat sebelunya bersifat ‘aam). Ini menurut pendapat ulama yang berpandangan tentang
ta’bir-nya(posisiterakhirnya)mukhassis.
[15]
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi, pedoman penentuan yang bisa
disimpulkan ada 4 pendekatan yaitu : Pendekatan Historis (Mulahadzatu zamanin nuzul) yaitu teori yang berorientasi pada
sejarah masa turunnya wahyu. Pendekatan Geografis (Mulahadzatu makanin nuzul),
teori ini berorientasi pada tempat turunnya ayat. Pendekatan Obyek (Mulahadzatul mukhotobin fin nuzul),
teori ini berorientasi kepada objek yang ditunjuk oleh ayat. Pendekatan
Kontekstual (Mulahadzatu man tadammanathu assuratu), teori ini
berorientasi kepada kandungan ayat maupun surat termaksud. Ciri ciri ayat Mekah
dan Madinah yang bisa disimpulkan adalah : Dimulai dengan panggilan Ya Ayyuhannas (wahai sekalian manusia), Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai orang-orang
kafir), Ya Bani Adam (Wahai keturunan
Adam). Sedangkan ayat Madinah dimulai dengan panggilan Ya Ayyuhaladzina Amanu (Wahai orang – orang beriman). Ayat ayat
Mekah lebih pendek dari ayat Madinah. Dan manfaat mengetahui ayat – ayat Mekah
dan Madinah yang terpenting adalah mengetahui yang terakhir (dari turunnya
ayat), sehingga dapat diketahui apakah ia berposisi sebagai nasikh (yang menghapus ayat sebelumnya)
atau sebagai Mukhassis (yang
mengkhususkan terhadap ayat sebelunya bersifat ‘aam).
Daftar
Pustaka
Al-Qattan,
Manna Khalil, Studi Ilmu – Ilmu Al-Qur’an,
Bogor, PT Pusaka Litera AntarNusa, 2009.
Aziz,
Moh Ali, Mengenal Tuntas Al-Qur’an,
Surabaya, Imtiyaz, 2012.
As-Suyuthi,
Imam Jalaluddin, Studi Al-Qur’an
Komprehensif,
Jajar,
Indiva Pustaka, 2008.
Eldeeb,
Ibrahim, Be A Living Qur’an,
Tangerang, Lentera Hati, 2009.
Hamid,
Shalahuddin, Study Ulumul Qur’an,
Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, TT.
Ma’Rifat,
Muhammad Hadi, Sejarah Al-Qur’an,
Jakarta, Al – Huda, 2007.
Marzuki,
Kamaluddin, Ulum Al-Qur’an, Bandung, PT
Remaja Rosdakarya, 1994.
Uin
Sunan Ampel, Mkd Bahan Ajar Studi
Al-Qur’an, Surabaya, Uinsa Press, 2009.
Uin
Sunan Ampel, Mkd Studi Al-Qur’an,
Surabaya, Uinsa Press, 2013.
[1]
Shalahuddin Hamid, Studi Ulumul Qur’an,
Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, TT, Cetakan ke I, hal 191-194
[2] Mkd
Sunan Ampel Surabaya, Bahan Ajar Studi
Al-Qur’an, Surabaya, Uinsa Press, 2018, Cetakan ke I, hal 182-183
[3] Muhammad
Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an,
Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke II, hal 70-71
[4]Kamaluddin
Marzuki, Ulum Al-Qur’an, Bandung, PT
Remaja Rosdakarya, 1994, Cetakan ke II, hal 48-49
[5] Muhammad
Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an,
Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke II, hal 70-71
[6] Moh. Ali
Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya,
Imtiyaz, 2018, cetakan ke III, hal 97
[7] Mkd Uin
Sunan Ampel Surabaya, Bahan Ajar Studi
Al-Qur’an, Surabaya, Uin Sunan Ampel
Press, 2018, Cetakan ke I, hal 182-183
[8] Manna
Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,
Bogor, Litera AntarNusa, 2017, Cetakan ke XVIII, hal 84-86
[9] Mkd Uin
Sunan Ampel, Studi Al-Qur’an,
Surabaya, Uin Sunan Ampel, 2013, Cetakan ke III, hal 105
[10]
Shalahuddin Hamid, Studi Ulumul Qur’an,
Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, TT, Cetakan ke I, hal 207
[11] Manna
Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an,
Bogor, Litera AntarNusa, 2017, Cetakan ke XVIII, hal 79-80
[12] Mkd Uin
Sunan Ampel Surabaya, Bahan Ajar Studi
Al-Qur’an, Surabaya, Uin Sunan Ampel
Press, 2018, Cetakan ke I, hal 178-180
[13] Ibrahim
Eldeeb, Be A Living Qur’an,
Tangerang, Penerbit Lentera Hati, 2009, Cetakan ke I, hal 32-33
[14] Moh.
Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya,
Imtiyaz, 2018, cetakan ke III, hal 98
[15][15]
Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Studi
Al-Qur’an Komprehensif, Surakarta, Indiva Pustaka, 2008, Cetakan ke I, hal
37
