Saturday, November 30, 2019

Rangkuman 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Halo Assalamualaikum teman – teman perkenalkan saya Arisky Wijaya mahasiswa semester 1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi, Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit merangkum buku yang berjudul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Sebelumnya izinkan saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan saya kesehatan dan kelancaran saat menulis artikel ini, Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW panutan kita semua umat muslim.

Image result for prof dr moh ali aziz
Pertama - tama saya akan mengenalkan siapa itu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, Beliau adalah Imam Shalat Teraweh di Afrika, Asia bahkan eropa dan beliau lulusan IAIN atau yang sekarang disebut Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Banyak buku yang sudah beliau tulis seperti Sukses Belajar Melalui Terapi Shalat (2016), Bersiul di Tengah Badai (2015), Ilmu Dakwah (2004), Solusi Ibadah di Hongkong (2003), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (2011), Teknik Khutbah Jum’at Komunikatif (2014), Public Speaking, Gaya dan Teknik Pidato Dakwah (2017), Doa-Doa Keluarga Bahagia (2013).
Atas izin beliau saya diberi kesempatan untuk merangkum salah satu bukunya. Saya akan mulai dari bagan terapi shalat bahagia, ada istilah yang dikatakan buku ini adalah T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana’ah) shalat yang dilakukan dengan penghayatan bisa menguatkan keimanan dan sifat tawakal. Dengan keimanan dan tawakal, seseorang bisa mengarahkan 60.000 pikiran untuk bersifat optimis, pantang menyerah bahkan menikmati tantangan yang dihadapi. Dengan keimanan dan tawakal itu pula, seseorang bisa membuang emosi negatif yaitu beban negatif yaitu beban masalah yang memberatkan jiwanya. Emosi negatif  itu menjadi hilang karena dengan penyerahan diri yang sepenuh hati kepada Allah, berarti ia yakin bahwasemua masalahnya telah diambilalih oleh Allah SWT. Dengan kata lain, Allah SWT tidak akan mengambil alih penyelesaian masalah yang dihadapi seseorang, jika ia tawakal hanya setengah hati.
Shalat harus dikerjakan dengan tumakninah (thuma’ninah) yaitu tenang, sabar dan tidak tergesa – gesa rukuk, bangkit dari rukuk, sujud dan seterusnya harus dikerjakan dengan perlahan – lahan. Tidaklah sah shalat yang tidak tumakninah. Shalat tumakninah membentuk pribadi yang tumakninah. Sikap tumakninah menyelamatkan manusia dari penyakit hurry sickness, serba terburu – buru, serba ingin instan, serba tidak sabar (impatience), yang semuanya menjadi sumber kegelisahan dan konflik.
Shalat sebagai ekspresi syukur juga membentuk pribadi yang qana’ah ( menerima yang ada). Peshalat khusyuk merasa sangat senang dengan karunia Allah yang telah diterima, puas dengan apa yang ada, dan tidak mengangan – angan, apalagi menghitung – hitung apa yang belum di tangannya. Dengan hidup demikian seseorang telah mengurangi daftar keinginan. Jika peshalat telah berhasil menanamkan jia T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana’ah), maka ia tidak hanya berbahagia, tapi juga membahagiakan orang lain. Tutur katanya menjadi enak didengar, sikapnya santun, merendah dan menghargai semua orang tanpa melihat latar belakang masing – masing dan lebih suka memberi daripada menerima. Bandingkan dengan orang yang rakus, pemarah, kikir, dan serbaa gugup. Wajahnya kusut dan terlihat penuh beban. Sudah pasti ia orang yang tak bahagia. Ia tak hanya menderita, tapi juga menimbulkan penderitaan orang yang bergaul dengannya.
Secara garis besar ada enam gerakan utama dalam shalat yaitu berdiri, rukuk, bangun dari rukuk, sujud duduk di antara dua sujud dan tasyahud. Masing – masing gerakan ini harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghayatan. Penghayatan dilakukan dengan cara diam sejenak sebelum atau sesudah membaca doa untuk merenungi poin – poin penting dalam doa pada setiap gerakan. Setelah berhasil meresapi poin – poin penghayatan dan renungan secara mendalam, baru lanjutkan gerakan shalat berikutnya. Berikut ini adalah poin – poin penghayatan dan renungan pada setiap gerakan shalat :
1.      Berdiri
Pada posisi ini, Anda berturut - turut membaca doa pembuka ( iftitah), surat Al Fatihah dan beberapa ayat Al Quran karena dalam posisi ini hanya surat  Al Fatihah yang wajib dibaca, maka yang paling utama diingat adalah inti dari surat Al Fatihah, yaitu :
a.       Syukur kepada Allah SWT
Kita bersyukur atas semua anugrah Allah Yang Maha Menguasai dan Mengatur alam semesta, Maha Memenuhi kebutuhan manusia, Maha Pengasih dan Maha pemurah, Maha Adil dan teliti dalam pengadilan di akhirat.
b.      Bimbingan Allah SWT
Jangankan anda, para nabi pun membutuhkan bimbingan Allah SWT. Kita diberi Allah akal, tapi tidak akan bisa menemukan kebenaran dengan akal semata tanpa petunjuk Allah. Setelah mengetahui benar pun, kita membutuhkan bimbingan dan kekuatan untuk bisa melakukannya. Jika sudah tergerak mulai melakukan, masih diperlukan lagi bimbingan untuk ikhlas melakukannya.
c.       Ketahanan Iman
Iman kita selalu naik turun. Kita memohon ketahanan iman agar menjadi hamba yang dirahmati-Nya dan memiliki kekuatan melawan hawa nafsu.
    Ketiga poin diatas, agar mudah diingat, prof ali menyingkat dengan SUBHAN (Syukur, Bimbingan dan Ketahanan Iman)

2.      Rukuk
Dengan rukuk kita jauhkan pengagungan diri sendiri, orang lain dan apa saja di hati selain Allah. Jika hati telah rukuk, semua anggota badan menjadi ringan menjalankan perintah Allah SWT. Dari beberapa doa rukuk dan makna filosofisnya, ada dua hal penting yang harus dihayati dalam posisi rukuk, yaitu :

a.       Tunduk kepada kehendak Allah SWT
Kita tunduk sepenuhnya kepada apapun yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Agung. Serahkan hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan dan harapan kepada Allah.
b.      Menurut kepada semua perintah Allah SWT
Kita berikrar untuk menurut kepada Allah SWT. Ikrarsyahadat yang berkali – kali diucapkan dalam shalat adalah ikrar ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

3.      Bangkit dari Rukuk
Dari beberapa doa i’tidal (bangkit dari rukuk) dan makna filosofisnya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu :
a.       Hak Pujian
Segala puji bagi Allah SWT. Dialah satu – satunya yang berhak dipuji. Dia Maha Kuasa, Penguasa Langit dan bumi, dan Maha Pemberi. Kita harus memuji Allah setiap saat.
b.      Takdir
Tidak ada yang terjadi di dunia secara kebetulan. Semuanya terjadi atas Rencana Besar; kehendak dan ketetapan Allah SWT, jika Allah berkehendak memberi sesuatu, tidak ada satupun kekuatan bisa menghalanginya. Sebaliknya, jika Allah tidak berkehendak, tidak ada manusia yang dapat memberikannya.

4.      Sujud
Sujud adalah posisi yang paling agung dalam shalat setelah rukuk, dalam sujud orang tidak bisa menoleh ke manapun kecuali menghadap Allah. Rukuk adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujudjuga posisi terdekat antara manusia dan Allah. Berdasarkan doa dan makna filosofis sujud, maka ada tiga pokok penting yang harus dihayati ketika sujud, yaitu:
a.       Maaf
Kita memohon maaf atau ampunan Allah atas semua dosa kita, keluarga dan kedua orang tua.
b.      Sinar Allah
Kita memohon sinar Allah dalam hati, mata, telinga, lisan, dan semua anggota badan, agar bisa menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dengan mudah.
c.       Jiwa dan Raga
Kita sadar sepenuhnya bahwa jiwa dan raga ada dalam genggaman Allah SWT. Dengan kekuasaan-Nya, Allah bisa melakukan apa saja terhadap diri kita. Oleh sebab itu, kita pasrahkan sepenuhnya jiwa dan raga, hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan kepada Allah SWT
        Ketiga poin di atas prof Ali singkat dengan istilah MASJID ( Maaf, Sinar, dan (penyerahan) jiwa dan raga).

5.      Duduk Antara Dua Sujud
Dari segi isinya, doa dalam posisi ini adalah doa paling lengkap, karena mencakup kebutuhan dunia dan akhirat yaitu ampunan, kasih sayang, kesejahteraan, dan keimanan. Berdasarkan beberapa doa dalam posisi ini, maka ada empat permohonan penting kepada Allah, yaitu :
a.       Ampunan
Yaitu ampunan Allah atas dosa – dosa yang anda lakukan. Sebutkanlah dalam hati dosa – dosa tersebut, lalu mintalah pengampunan dan kekuatan dari Allah untuk tidak mengulanginya.
b.      Kasih
Yaitu kasih sayang (rahmat) Allah. Ampunan (maghfirah) Allah selalu berkaitan dengan kasih (rahmat-Nya). Keduanya menjadi penentu masa depan dunia dan akhirat kita.
c.       Sejahtera
Yaitu terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani. Kita memohon kesehatan dan rizki yang banyak dengan niat mendapatkan kemudahan ibadah, biaya pendidikan anak, infak dll.
d.      Iman
Yaitu keimanan yang kokoh dan petunjuk sepanjang waktu, iman kita sangat labil, apalagi di tengah godaan duniawi yang semakin beragam.
            Keempat poin diatas disingkat beliau dengan istilah AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera, Iman)
6.      Tasyahud
Posisi duduk ini disebut tasyahud karena di dalamnya ada bacaan syahadat, sebuah ikrar keimanan: “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.” Dari beberapa doa tasyahud dan makna filosofisnya, ada tiga poin penting yang harus dihayati dalam posisi ini, yaitu :
a.       Shalawat
Shalawat dan salam kita berikan kepada Nabi SAW, sebagai ungkapan terima kasih atas jasa Nabi SAW yang mengenalkan Allah kepada kita dan membimbing cara beribadah kepaada-Nya.
b.      Persaksian
Kita bersaksi atau berikrar “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.” Kita memohon kepada Allah agar tetap menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya sepanjang hidup dan mati dengan keimanan yang sempurna.
c.       Tawakal
Kita serahkan sepenuhnya apapun hasil yang diberikan Allah setelah ikhtiar yang maksimal.
    Ketiga poin tersebut disingkat beliau dengan istilah SOSIAL (Sholawat, Peersaksian, Tawakal).
            Kita menutup shalat dengan ucapan salam ke kanan dan kiri, kita merasakan bahagia ikut berdoa untuk pertolongan Allah dan keselamatan bagi semua orang di sebelah kanan dan kiri kita. Dengan T2Q yang diperoleh melalui shalat, kita merasakan kedamaian, karena semua dosa sudah kita akui sejujurnya di hadapan Allah dan memohon ampunan-Nya, semua persoalan hidup telah kita serahkan penuh dan kita yakini telah di ambil alih penyelesaiannya oleh Allah SWT. Tujuh belas renungan untuk setiap rakaat shalat di atas, beliau rangkum dalam kalimat kunci : SUBHAN TURUN HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL.
            Mungkin itu saja rangkuman saya mengenai buku yang berjudul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. kurang lebihnya mohon maaf, kalau ada salah datangnya dari saya kalau benar itu datangnya dari Allah.

Wassalamualaikum.

Thursday, October 3, 2019

AYAT – AYAT MEKAH DAN MADINAH

MAKALAH




Dosen :
Prof.Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
Disusun oleh :
Arisky Wijaya
(B95219088)

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019






KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyusun  makalah yang berjudul “Ayat-Ayat Mekah dan Madinah” Shalawat serta salam tak lupa saya curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memperjuangkan islam dari zaman kegelapan sampai zaman terang benderang. Adapun, saya sadari bahwa mulai dari perencanaan, penyusunan, dan pengerjaan makalah ini saya telah mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan hormat saya menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada Dosen pengampu yang telah memberi pengarahan terhadap penyusunan makalah ini Bapak Prof.Dr.Moh Ali Aziz,,M,Ag Dan Dosen yang juga telah memberikan pengarahan Ibu Ati’ Nursyafah’ah M.Kom.l

Dan dalam penyusunan makalah ini saya sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu saya mengharapkan kritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya.




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.. 1
BAB I. 3
PEDOMAN PENENTUAN AYAT MEKAH DAN MADINAH.. 3
BAB II. 5
CIRI-CIRI AYAT MEKAH DAN MADINAH.. 5
BAB III. 12
MANFAAT PENGETAHUAN TENTANG AYAT-AYAT MEKAH DAN MADINAH    12
PENUTUP. 17
Kesimpulan. 17








BAB I

PEDOMAN PENENTUAN AYAT MEKAH DAN MADINAH


Allah SWT menurunkan ayat Mekah dan ayat Madinah bukan tanpa sebab, Allah SWT menurunkan ayat-ayat tersebut seperti ayat Mekah, yang diturunkan pada saat Nabi Muhammad SAW berada di Mekah seama 12 tahun. Pada saat itu masyarakat Mekah melakukan penolakan terhadap Al-Qur’an oleh karena itu bahasa yang digunakan ayat Mekah kedengarannya amat keras, huruf-hurufnya seolah melontarkan api ancaman dan siksaan yang ditujukan kepada masyarakat Mekah yang menentang kebenaran pada waktu itu. Berbeda dengan ayat Mekah, ayat Madaniyah bernuasa lemah lembut karena kebanyakan isi ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang mukmin.         Berdasarkan buku Study Ulumul Qur’an karya Drs. Shalahuddin Hamid, MA menyebutkan bahwa pedoman penentuan ayat Mekah dan ayat Madinah terdiri atas 4 pendekatan yaitu : Pendekatan Historis (Mulahadzatu zamanin nuzul) yaitu teori yang berorientasi pada sejarah masa turunnya wahyu. Pendekatan Geografis (Mulahadzatu makanin nuzul),  teori ini berorientasi pada tempat turunnya ayat. Pendekatan Obyek (Mulahadzatul mukhotobin fin nuzul), teori ini berorientasi kepada objek yang ditunjuk oleh ayat. Pendekatan Kontekstual (Mulahadzatu  man tadammanathu assuratu), teori ini berorientasi kepada kandungan ayat maupun surat termaksud.[1] Lalu menurut buku Bahan Ajar Studi Al-Qur’an yang disusun oleh MKD Sunan Ampel Surabaya ada 4 teori yaitu : Teori Geografis, Teori Historis, Teori Subjektif, dan Teori Konten Analisis[2]. Lalu, Muhammad Hadi Ma’rifat penulis buku Sejarah Al-Qur’an terdapat 3 tolak ukur pembagian ayat Mekah dan ayat Madinah, yaitu : tolak ukur zaman, tolak ukur tempat, tolak ukur isi[3]. Berdasarkan teori-teori diatas bisa disimpulkan bahwa banyak teori tentang pedoman penentuan ayat Mekah dan ayat Madinah.



BAB II

CIRI-CIRI AYAT MEKAH DAN MADINAH


      Studi Makkiyyah adalah studi sejarah, studi sirah, dan studi tentang kejadian tertentu yang memerlukan penyaksian langsung tentang kejadian tersebut. Maka tak ada jalan lain yang dapat membantu di dalam memahami mana saja ayat-ayat Mekah dan mana saja ayat-ayat Madinah. Dari segi sumbernya,ayat Mekah dan ayat madinah sama saja dengan sabab nuzul, artinya ayat Mekah maupun ayat Madinah hanya dapat diketahui melalui riwayat demi riwayat yang diturunkan secara estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya sebelum kemudian dibukukan atau ditulis dalam suatu bentuk catatan. Sekalipun demikian, ada ciri-ciri yang bisa ditangkap untuk membedakan ayat Mekah dan ayat Madinah. dan isyarat atau ciri-ciri yang biasa disebut dhawabith adalah sebagai berikut :
Menurut buku Ulum Al-Qur’an karya Kamaluddin Marzuki ciri-ciri ayat mekah adalah :
1.      Setiap surah yang padanya terdapat kata kalla sebagian besar ayatnya.
2.      Setiap surah yang padanya terdapat sujud tilawah, sebagian ayat-ayatnya.
3.      Semua surah yang diawali huruf tahajji seperti qaf, nun,ha mim adalah Makkiyah.
4.      Semua surah yang memuat kisah Adam dan Iblis kecuali surah Al Baqarah adalah Makkiyah.
5.      Semua surah yang memuat kisah nabi dan umat-umat terdahulu adalah Makkiyah.
6.      Semua surah yang terdalamnya terdapat khithab (seruan) kepada manusia (wahai semua manusia....)
7.      Semua surah yang menyeru dengan kalimat ‘Anak Adam’ adalah Makkiyah.
8.      Semua surah yang isinya memberi penekanan pada masalah akidah adalah Makkiyah.
9.      Ciri-ciri Makkiyah lainnya adalah ayatnya pendek-pendek.
Menurut buku Ulum Al-Qur’an karya   Kamaluddin Marzuki ciri-ciri ayat Madinah adalah :
1.      Semua surah yang padanya terdapat kalimat ‘orang-orang yang beriman’ adalah Madaniyah.
2.      Semua surah yang padanya terdapat hukum-hukum faraidh, hudud, qishahsh dan jihad adalah Madaniyah.
3.      Semua surah yang menyebut ‘orang-orang munafik’ kecuali Al-Ankabut adalah Madaniyah.
4.      Semua surah yang memuat bantahan terhadap Ahlu Al-Kita (Yahudi dan Nasrani) adalah Madaniyah.
5.      Semua surah yang memuat hukum syara’ seperti ibadah, mu’amalah dan al-ahwal al-syakhshiyah adalah Madaniyah.
6.      Ayat-ayat Madaniyah pada umumnya panjang-panjang[4].
Menurut buku Sejarah Al-Qur’an karya Muhammad Hadi Ma’rifat disebutkan bahwa sebagian ulama punya kriteria lain untuk mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah, yaitu sebagai berikut:
1.      Ayat-ayat pendek yang ada didalam satu surah dan surah pendek menunjukkan bahwa itu adalah Makkiyah. Panjangnya ayat yang ada dalam satu surah dan panjangnya surah membuktikan bahwa itu Madaniyah.
2.      Kerasnya teguran dalam kebanyakan surah ditujukan kepada penduduk Mekkah, karena mereka membangkang dan bersikeras menentang kebenaran. Jika tipe surah itu berbuasa lemah lembut, mennjukkan ke-Madaniyah-an surah, karena kebanyakan pembahasan ditujukan kepada orang-orang mukmin.
3.      Tolak ukur surah-surah Makkiyah adalah membahas tentang dasar-dasar makrifat, dasar keimanan dan dakwah islam. Surah-surah Madaniyah kebanyakan membahas tentang rincian-rincian hukum dan penjelasan syariat islam.
4.      Surah-surah Makkiyah memiliki ciri, antara lain adalah ajakan untuk selalu berakhlak, beristiqamah dalam berpendapat, keselamatan aqidah, tidak membangkang, bersikap tegas terhadap keyakinan batil kaum musyrik serta menganggap pemikiran dangkal kaum musyrik tak berdasar dan tak berarti. Ciri surah Madaniyah, diantaranya adalah membahas tentang sikap kaum muslim terhadap ahli kitab dengan mengajak mereka mengambil jalan tengah dalam akidah dan pemikiran, berperang melawan orang-orang munafik dan menyebutkan sifat-sifat mereka.
5.      Kebanyakan pembahasan yang diawali dengan kalimat ‘hai manusia’ adalah salah satu ciri surah Makkiyah. Pembahasan yang diawali oleh ‘hai orang-orang beriman’ adalah salah satu ciri surah Madaniyah[5].
Tentu, ciri-ciri tersebut tidak bersifat universal melainkan hanya bisa diterapkan kepada jenis tertentu. Ketika ciri-ciri tersebut digabungkan kemudian menjadi valid dan tidak bertentangan dengan nas yang ada, maka ia bisa dipercaya dan menjadi sumber isnpirasi ahli fikih atau sejarahwan dan yang lainnya.
Tolak ukur yang membedakan Makkiyah dan Madaniyah meliputi dua hal, pertama adalah bersifat naratif yang bersumber dari hadis riwayat yang secara terminologis disebut dengan sima’i. Kedua adalah ijtihad, yaitu identifikasi berdasarkan kriteria lahiriah dan isi. Kriteria lahiriah seperti susunan kalimat, adanya sajak (wazan), panjang atau pendeknya ayat dan surah. Kriteria isi seperti bukti-bukti yang berhubungan dengan tema-tema akidah, hukum, sikap terhadap orang-orang kafir dan munafik. Menurut buku Mengenal Tuntas Al-Qur’an karya Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M,Ag ciri-ciri ayat Mekah yaitu
1.      Dimulai dengan panggilan Ya Ayyuhannas (wahai sekalian manusia), Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai orang-orang kafir), Ya Bani Adam (Wahai keturunan Adam). Terdapat 292 ayat jenis ini.
2.      Terdapat kata kalla (sekali-kali tidak, atau jangan begitu!).
3.      Ayat – ayat sadjah ( disunatkan bersujud ketika membacanya).
4.      Diawali huruf terpotong seperti Alif-Lam-Mim, Nun, Ya-Sin.
5.      Berisi kisah-kisah, akhlak dan keimanan
6.      Ayatnya pendek – pendek.
7.      Berisi sumpah, misalnya “Demi Masa dsb”.
Ciri – ciri ayat Madinah sebagai berikut :
1.      Ya Ayyuhalladzina Amanu (Wahai orang – orang yang beriman). Terdapat 219 ayat jenis ini.
2.      Berisi hukum, kemasyarakatan, perang, sifat orang – orang munafik, pemeluk agama Kristen dan Yahudi.
3.      Ayatnya panjang – panjang.[6]
Lalu, berdasarkan buku yang disusun oleh tim Mkd Uin Sunan Ampel Surabaya yang berjudul Bahan Ajar Studi Al-Qur’an. Ciri ayat dan surah Makkiyah adalah :
1.      Di dalamnya berisi penjelasan dengan bukti dan argumentasi tentang konsepsi ketuhanan (Jadal Al-Qur’an).
2.      Memuat prinsip-prinsip moral dan pranata sosial yang agung, bersifat universal dan inklusif.
3.      Memuat nasehat dan ibarat dalam aneka kisah.
4.      Kebanyakan ayat dan surahnya pendek, karena menggunakan bentuk ijaz (ringkas, tetapi padat makna).
5.      Didalamnya terdapat ayat-ayat sadjah.
6.      Di permulaan terdapat huruf-huruf tahaji (harf al-muqatta’ah).
7.      Di dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, selain dalan Q.S.Al-Baqarah, dan Q.S.Al-Maidah.
8.      Di dalamnya terdapat cerita tentang kemusyrikan.
9.      Di dalamnya terdapat keterangan adat istiadat orang kafir, orang musyrik, yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuannya dan sebagainya.

berdasarkan buku yang disusun oleh tim MKD UIN SUNAN AMPEL Surabaya yang berjudul Bahan Ajar Studi Al-Qur’an. Ciri ayat dan surah Madaniyah adalah :
1.      Memuat hukum pidana (hudud).
2.      Memuat hukum fara’id.
3.      Berisi izin jihad fi sabilillah.
4.      Berisi keterangan tentang karakter orang-orang munafiq.
5.      Berisi hukum ibadah.
6.      Berisi hukum muamalah, seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai, utang-piutang, dan sebagainya.
7.      Berisi hukum munakahat, baik mengenai nikah cerai rujuk (NCR).
8.      Berisi hukum kemasyarakatan, kenegaraan, seperti permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan, pergaulan dan sebagainya.
9.      Berisi dakwah kepada pemeluk yahudi dan nasrani.
10.  Kebanyakan ayat dan surahnya panjang[7].
Selanjutnya menurut Manna Khalil Al Qattan melalui buku Studi Ilmu-Ilmu Qur’an yang diterjemahkan oleh Drs. Mudzakir AS ciri tema dan gaya bahasa ayat-ayat Mekah sebagai berikut :
1.      Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
2.      Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, pemakan harta anakyatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
3.      Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka.
4.      Suku katanya pendek-pendek  disertai kata-kata yang mengesankan sekali pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah.
Ciri tema dan gaya bahasa ayat-ayat Madinah sebagai berikut :
1.      Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
2.      Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk islam.
3.      Menyingkap perilaku orang munafik, mengananlisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
4.      Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya[8].

Seluruh ciri - ciri tersebut tidak lengkap dan tidak sempurna (exhaustis) sebagaimana yang telah disadari oleh pakar Ulum Al-Qur’an sejak dulu hingga kini.[9]


BAB III

MANFAAT PENGETAHUAN TENTANG AYAT-AYAT MEKAH DAN MADINAH


Menurut buku Study Ulumul Qur’an karya Drs.Shalahuddin Hamid,MA manfaat mempelajari ayat Mekah dan Madinah sebagai berikut :
1.      Sebagai satu petunjuk dalam menafsirkan Al-Qur’an : karena mengetahui tempat turunnya Al-Quran membantu pemah aman ayatdan tafsirnya dengan penafsiran yang benar, meskipun hal ini membantu secara umum saja tidak pada sebab-musababnya.
2.      Mengetahui strategi dakwah Rasulullah dan mengamalkannya untuk mengembangkan dakwah dimasyarakat. Bahwa strategi defensif tidak selalu merupakan kekalahan dalam memperjuangkan kebenaran, sebaliknya strategi ofensif membuktikan bahwa manusia mampu menciptakan revolusi moral yang mencengangkan.
3.      Membantu pengembangan wacana tafsir Al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena dengan mengetahui pembahasan ini mufassir akan merasa ikut terbawa dengan gaya bahasa yang dipakai dalam ayat-ayat Makkiyah yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai bukti tauhidullaah dan ayat-ayat Madinah yang menjelaskan hukum secara definitif dan gaya bahasanya yang tegas.
4.      Mengetahi hukum-hukum yang turun terakhir kali sehingga dapat mengetahui kedudukan nasikh dan mansukh serta dapat mengambil keputusan hukum yang baik dan benar.
5.      Usaha menggali sedalam mungkin suri tauladan dan akhlakul karimah Rasulullah dari setiap ayat-ayat Qur’an yang diturunkan kepada beliau[10].

Menurut buku Studi Ilmu-Ilmu Qur’an karya Manna Khalil Al-Qattan yang diterjemahkan oleh Drs. Mudzakir AS faedah mengetahui ayat-ayat Mekah dan Madinah diantaranya :
1.      Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu
2.      Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempuyai bahasa sendiri.
3.      Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwannya, baik pada periode Mekah maupun periode Madinah[11].
Lalu menurut buku yang berjudul Bahan Ajar Studi Al-Qur’an yang disusun oleh MKD UIN SUNAN AMPEL Surabaya faedah mengetahui ayat Mekah dan Madinah secara umum antara lain :
1.      Mengerti perbedaan uslub-uslub (gaya bahasa dan stailisasi) Al-Qur’an.
2.      Mengetahui dialektika Al-Qur’an dengan masyarakatnya, dalam transformasi dan kontruksi ideologi masyarakat baru dalam sinaran wahyu ilahi.
3.      Mudah mengenali ayat atau surah yang turun lebih dahulu dan yang belakangan dan mudah mengenali ayat atau surah hukum atau bacaannya yang telah (mungkin) dinaksh (diganti), dan ayat atau surah yang menasakh.
4.      Mengetahui prinsip-prinsip umum (kulliy) dari isi ayat-ayat atau surah-surah Makkiyah, dan prinsip-prinsip khusus (juz’iy) dari isi ayat-ayat atau surah-surah Madaniyah
5.      Mengetahui sejarah pembentukan dan penerapan hukum islam (tarikh tashri) yang amat bijak dalam menetapkan hukumnya berdasarkan sistem sosial masyarakatnya.
6.      Mengetahui hikmah ditetapkan dan diterapkannya suatu hukum. Dengan demikian, maka dapat diketahui tujuan dan cara penetapan serta pelaksanaan hukum islam atas pertimbangan sosio kulturnya.
7.      Mengetahui teknik dan tahapan dakwah islamiah, serta sistem dan pola pendidikan Al-Qur’an yang disesuaikan dengan taraf berfikir, komunikasi dan budaya masyarakatnya.
8.      Dapat mengetahui situasi dan kondisi masyarakat kota Mekah dan Madinah pada saat Al-Qur’an diturunkan.
9.      Akan dapat menambah keimanan seseorang terhadap kebenaran kewahyuan Al-Qur’an, dan keaslian Al-Qur’an[12].
Dan menurut buku Be A Living Qur’an karya Ibrahim Eldeeb manfaat mengetahui ayat-ayat Mekah dan Madinah yaitu :
1.      Mengetahui mana yang diturunkan lebih dulu dan mana yang kemudian.
2.      Mengetahui nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus).
3.  Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dengan menghayati peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul) dan realita kehidupan kaum muslim pada periode sejarah.
4.      Menghayati perjalanan hidup Rasulullah SAW melalui ayat-ayat Al-Qur’an[13].

Manfaat mengetahui ayat – ayat Mekah dan ayat – ayat Madinah menurut Prof.Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag melalui buku Mengenal Tuntas Al-Qur’an yang paling utama adalah pemahaman tentang kronologi turunnya syariat[14]

Ada sejumlah ulama yang membahas masalah ini secara khusus (dalam satu kitab tersendiri), di antara Imam Makki dan al-‘Izzu ad-Dairini. Di antara faedah mengetahui masalah ayat Mekah dan Madinah ini adalah mengetahui yang terakhir (dari turunnya ayat), sehingga dapat diketahui apakah ia berposisi sebagai nasikh (yang menghapus ayat sebelumnya) atau sebagai Mukhassis (yang mengkhususkan terhadap ayat sebelunya bersifat ‘aam). Ini menurut pendapat ulama yang berpandangan tentang ta’bir-nya(posisiterakhirnya)mukhassis. [15]
 

PENUTUP

Kesimpulan

            Jadi, pedoman penentuan yang bisa disimpulkan ada 4 pendekatan yaitu : Pendekatan Historis (Mulahadzatu zamanin nuzul) yaitu teori yang berorientasi pada sejarah masa turunnya wahyu. Pendekatan Geografis (Mulahadzatu makanin nuzul),  teori ini berorientasi pada tempat turunnya ayat. Pendekatan Obyek (Mulahadzatul mukhotobin fin nuzul), teori ini berorientasi kepada objek yang ditunjuk oleh ayat. Pendekatan Kontekstual (Mulahadzatu  man tadammanathu assuratu), teori ini berorientasi kepada kandungan ayat maupun surat termaksud. Ciri ciri ayat Mekah dan Madinah yang bisa disimpulkan adalah : Dimulai dengan panggilan Ya Ayyuhannas (wahai sekalian manusia), Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai orang-orang kafir), Ya Bani Adam (Wahai keturunan Adam). Sedangkan ayat Madinah dimulai dengan panggilan Ya Ayyuhaladzina Amanu (Wahai orang – orang beriman). Ayat ayat Mekah lebih pendek dari ayat Madinah. Dan manfaat mengetahui ayat – ayat Mekah dan Madinah yang terpenting adalah mengetahui yang terakhir (dari turunnya ayat), sehingga dapat diketahui apakah ia berposisi sebagai nasikh (yang menghapus ayat sebelumnya) atau sebagai Mukhassis (yang mengkhususkan terhadap ayat sebelunya bersifat ‘aam).







Daftar Pustaka

Al-Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu – Ilmu Al-Qur’an, Bogor, PT Pusaka Litera AntarNusa, 2009.
Aziz, Moh Ali, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2012.
As-Suyuthi, Imam Jalaluddin, Studi Al-Qur’an Komprehensif,
Jajar, Indiva Pustaka, 2008.
Eldeeb, Ibrahim, Be A Living Qur’an, Tangerang, Lentera Hati, 2009.
Hamid, Shalahuddin, Study Ulumul Qur’an, Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, TT.
Ma’Rifat, Muhammad Hadi, Sejarah Al-Qur’an, Jakarta, Al – Huda, 2007.
Marzuki, Kamaluddin, Ulum Al-Qur’an, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1994.
Uin Sunan Ampel, Mkd Bahan Ajar Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uinsa Press, 2009.
Uin Sunan Ampel, Mkd Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uinsa Press, 2013.


[1] Shalahuddin Hamid, Studi Ulumul Qur’an, Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, TT, Cetakan ke I, hal 191-194
[2] Mkd Sunan Ampel Surabaya, Bahan Ajar Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uinsa Press, 2018, Cetakan ke I, hal 182-183
[3] Muhammad Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke II, hal 70-71
[4]Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Qur’an, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1994, Cetakan ke II, hal 48-49
[5] Muhammad Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke II, hal 70-71
[6] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2018, cetakan ke III, hal 97
[7] Mkd Uin Sunan Ampel Surabaya, Bahan Ajar Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uin  Sunan Ampel Press, 2018, Cetakan ke I, hal 182-183
[8] Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor, Litera AntarNusa, 2017, Cetakan ke XVIII, hal  84-86
[9] Mkd Uin Sunan Ampel, Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uin Sunan Ampel, 2013, Cetakan ke III, hal 105
[10] Shalahuddin Hamid, Studi Ulumul Qur’an, Jakarta, Intimedia Ciptanusantara, TT, Cetakan ke I, hal 207
[11] Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor, Litera AntarNusa, 2017, Cetakan ke XVIII, hal 79-80
[12] Mkd Uin Sunan Ampel Surabaya, Bahan Ajar Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uin  Sunan Ampel Press, 2018, Cetakan ke I, hal 178-180
[13] Ibrahim Eldeeb, Be A Living Qur’an, Tangerang, Penerbit Lentera Hati, 2009, Cetakan ke I, hal 32-33
[14] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2018, cetakan ke III, hal 98
[15][15] Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Studi Al-Qur’an Komprehensif, Surakarta, Indiva Pustaka, 2008, Cetakan ke I, hal 37